Kesembuhan John G Lake dan keluarga

Jeritan minta pembebasan

Saya hidup dalam keluarga yang selama 32 tahun tidak pernah lepas dari kelumpuhan. sebelum saya mencapai usia 24 tahun, kami telah memakamkan empat saudara lakilaki dan empat saudara perempuan, dan empat anggota keluarga yang lain sedang sekarat – tidak ada harapan, kelumpuhan yang tidak tertolong. saya membangun keluarga saya sendiri, menikahi seorang wanita yang cantik, dan putra pertama kami pun lahir. hanya dalam waktu singkat, saya melihat rentetan gerbong penyakit kejam yang sama yang telah turun – temurun mengikuti keluarga ayah saya memasuki keluarga saya. istri saya menderita kelumpuhan; putra saya sakit-sakitan. semua ini menyebabkan satu hal dalam sifat saya berkembang; sebuah jeritan memohon pembebasan. jiwa saya berseru kepada Allah memohon pembebasan. saya tidak tahu apa – apa tentang kesembuhan ilahi; walaupun saat itu saya adalah seorang penginjil Methodist. .

Namun, hati saya menjerit memohon pembebasan; jiwa saya telah mencapai titik di mana saya tidak sanggup bergantung pada manusia. untuk keluarga kami, ayah saya telah menghabiskan sejumlah harta dengan sia- sia, seolah – olah rangkaian gerbong neraka ini tidak pernah berhenti. saya beritahukan kepada Anda, masalah ini tidak bisa dihentikan manusia karena masalah ini tersimpan jauh dalam sifat manusia – terlalu jauh untuk di jangkau obat – obatan. Hanya Allah mahakuasa dan Roh Kudus dan Tuhan Yesus Kristus yang dapat mencapai dalamnya sifat manusia, menemukan masalah sebenarnya di sana, dan menghancurkannya.

jika Anda jauh dari Allah dan hati Anda merindukan, jiwa Anda menjerit memohon pembebasan dari Allah, Dia akan datang membebaskan Anda. Anda tidak akan berseru sangat lama untuk dapat melihat gunung – gunung di pindahkan, dan malaikat pembebasan akan hadir di sana.

Saya akhirnya sampai di titik dimana jeritan hati saya yang terakhir adalah untuk pembebasan. Air mata memohon pembebasan mengalir selama tiga tahun sebelum kesembuhan dari Allah kami terima. saya dapat mendengar erangan, seruan, ketidakberdayaan dan isak tangis, dan merasakan keputusasaan keluarga saya. hati saya menjerit, jiwa saya tersedu – sedu, roh saya basah dengan air mata. saya mencari pertolongan. saya tidak tahu bahwa saya bisa memintanya langsung dari Allah. bukankah itu aneh, ada seseorang yang tidak cenderung memanggil nama Allah ketika mengalami masalah jasmani begitu juga masalah rohani? Namun, saya tidak seperti itu.

Rasa Lapar yang membuat putus asa

Namun, suatu hal menjadi matang dalam hati saya — sebuah rasa lapar sesungguhnya. rasa lapar dari jiwa seseorang harus dipuaskan. ini merupakan hukum Allah yang ada jauh di kedalaman Roh. Allah akan menjawab hati yang menjerit; Allah akan menjawab jiwa yang meminta. Kristus Yesus datang kepada kita membawa jaminan ilahi dan mengundang kita ketika lapar berdoa, percaya, dan mengambil dari Allah apa yang jiwa kita ingini dan yang hati kita rindukan.

Suatu hari Tuhan empunya surga menghampiri kami, dan dalam sekejap awan kegelapan, gelap malam dari nerakat itu, diangkat. cahaya Allah bersinar ke dalam kehidupan dan dalam rumah kami. kami belajar kebenaran bahwa Yesus adalah penyembuh hari ini dan kami mampu menerima kuasa ilahi untuk kebutuhan – kebutuhan kami.

Sejarah sebuah penyakit dan kematian.

Tidak seorang pun mengerti cengkraman hebat yang diletakkan oleh pewahyuan Yesus sebagai Penyembuh hari ini ke atas kehidupan saya, dan apa artinya itu bagi saya, jika mereka tidak memahami latar belakang saya sepenuhnya.

Kami enam belas bersaudara. kedua orangtua kami kuat, giat, dan sehat. Ibu saya meninggal dunia pada usia 75 tahun, dan pada saat ini (maret 1918) ayah saya, masih hidup, dan berusia 77 tahun.

Sebelum mengenal dan mengalami Tuhan sebagai penyembuh kami, kami sudah memakamkan delapan anggota keluarga kami. Rentetan gerbong penyakit yang aneh mengikuti kami dan selaam 32 tahun selalu ada anggota keluarga yang mengalami kelumpuhan. Bila melihat kembali ke belakang ketika saya masih kecil dan muda, saya ingat sebuah mimpi buruk tentang penyakit, dokter, perawat, rumah sakit, mobil jenazah, pemakaman, pekuburan, dan batu nisan, sebuah rumah tangga yang berkabung, hati ibu yang hancur dan ayah yang berduka, berjuang melupakan kepedihan masa lalu, demi menopang anggota keluarga yang masih hidup, yang membutuhkan kasih dan perlindungan mereka.

pada waktu Kristus dinyatakan kepada kami sebagai penyembuh, kakak laki – laki saya, yang lumpuh selama 22 tahun, dan untuk pengobatannya ayah saya telah menghabiskan sejumlah harta, sedang sekarat. Ginjalnya mengalami pendarahan dengan mudahnya, dan ia bisa bertahan hanya karena mengkonsumsi makanan pembentuk darah sebanyak yang ia mampu. selain ia, saya tidak mengenal satu orang pun yang pernah mengalami penderitaan seekstrem dan selama itu.

pada saat yang sama, saudara perempuan saya yang berusia 34 tahun sedang sekarat akibat lima benjolan kanker dipayudara kirinya. Dr. Karstens, seorang ahli bedah kenamaan asal Jerman mengoperasinya untuk kali kelima di Rumah Sakit Harper di Detroit, Michingan. namun, operasi itu tidak ada gunanya. Ada satu benjolan kanker yang besar dipayudara kirinya dan setelah operasi itu empat benjolah lain muncul – semuanya ada lima.

Saudara perempuan saya yang lain terbaring sekarat akibat pendarahan. secara bertahap, hari demi hari, darahnya mengalir keluar sampai ia di ujung maut.

Saya telah menikah dan membangun rumah tangga saya sendiri. Belum lama setelah kami menikah, rentetan gerbong penyakit yang mengikuti keluarga ayah saya muncul di keluarga saya. Istri saya, Jennie, lumpuh karena penyakit jantung dan tuberkulosis. Jantungnya bisa tiba – tiba berhenti, dan ia akan jatuh pingsan. kadang – kadang saya bisa menemukannya tergeletak di lantai atau di atas tempat tidur. obat – obatan stimulan yang lebih kuat dan lebih kuat wajib ada untuk mengembalikan fungsi jantungnya, sampai akhirnya hanya pil nitrogliserin yang mampu menolongnya. setelah berminggu – minggu Jennie akan setengah lumpuh, kata para dokter ini merupakan efek dari stimulasi berlebihan.

Terang datang Melalui Seorang Hamba Tuhan yang Saleh dan Pemberani.

Namun, di tengah – tengah pekatnnya kekelaman, ketika para dokter tercengang dan melangkah mundur sambil mengakui ketidakberdayaan mereka untuk menolong, ketika awan gelap dan maut kembali melayang – layang diatas rumah tangga ayah saya dan saya, tiba-tiba terang Allah mendobrak pintu jiwa kami melalui khotbah seorang hambat Tuhan yang saleh, yang benar dan hebat di dalam Allah sehingga dapat memberitakan seluruh kebenaran-Nya.

Saya membawa saudara laki-laki saya ke salah satu kebaktian kebangunan rohani John Alesander Dowie di Chicago. Ada temapt diruangan kebaktian itu yang disesaki pelbet – pelbet yang dia atasnya orang – orang yang sedang sekarat terbaring. saudara saya, yang lumpuh selama 22 tahun dan orang yang penderitaannya paling mengerikan menurut saya, disembuhkan di ruangan itu. Dowie masuk dan duduk dikursi untuk berkhotbah sebenar dan begitu ia melihat kebawah dan memerhatikan hebatnya penderitaan yang dialami saudara saya, ia meletakkan Alkitabnya dan turun ke bawah dan menyapanya, “Kawan, saya tahu Anda sedang menderita,” dan ia mendoakannya.

Secara instan, kuasa Allah menyambarnya. Ia bangkit dan berjalan keluar ruangan masih memakai baju tidurnya. Tiga yang lain, kondisinya sama sepertinya, terbaring dipelbet masing – masing. Dowie mendoakan setiap mereka, dan secara bergiliran mereka menerima sentuhan kesembuhan dan bangkit dari perlbetnya. .

Saudara saya berjalan lebih dari 6 km setelah ia bangkit dari ranjang kematiannya, kembali ke rumahnya, dan bergabung dalam bisnis ayah kami, seorang yang sehat. Ketika saya melihatnya sembuh, saya berjalan berjingkat selama sekitar 3 minggu. Keajaiban kuasa Allah telah dinyatakan ke dalam jiwa Methodist saya.

Sukacita dan Pengharapan yang besar

Sukacita besar dan pengharapan indah bermekaran dalam hati kami. sebuah manifestasi nyata dari kuasa kesembuhan Allah ada di depan kami. kami segera mengatur keberangkatan saudara perempuan kmai yang menderita lima benjolan kanker menuju rumah penyembuhan yang sama, mengangkatnya di atas sebuah usungan. Ia dibawa ke dalam kebaktian kesembuhan Ilahi. Dalam hatinya ia berkata, “orang lain mungkin akan disembuhkan karena mereka adalah orang baik. saya bukanlah orang Kristen sejati seperti mereka. Mereka mungkin disembuhkan karena kebaikan mereka, tetapi saya takut kesembuhan itu bukan untuk saya.” sepertinya hal ini terlalu besar untuk dirangkul jiwanya.

Setelah mendengar khotbah dan pengajaran firman Allah mengenai kesembuhan melalui Yesus Kristus, dari pelbetnya, pengharapn bermekearan dalam jiwanya. ia didoakan dan menerima penumpungan tangan. Saat doa iman naik ke takhta Allah, kuasa Allah turun ke atasnya, menggetarkan tubuhnya. Rasa sakit lenyap seketika dari tubuhnya. Pembengkakan mengempis secara bertahap. Benjolah besar menghitam, dan beberapa hari kemudian terlepas jatuh. Benjolan-benjolan kecil menghilang. payudara yang pernah diangkat mulai tumbuh kembali dan menjadi sempurna.

Iman dalam Kesembuhan Mekar kepada kehidupan.

Betapa hati kam tergetar! kata – kata tidak dapat menceritakan kisah ini. Iman baru bermekaran dalam diri kami — sebuah iman yang hidup dan dinamis. jika Allah mampu menyembuhkan saudara – saudari kami yang sekarat, dan melenyapkan kanker – kanker, Dia dapat menyembuhkan apapun dan siapapun.

Saudara Perempuan di sembuhkan di Ambang kematian

Saudara perempuan saya yang mengalami pendarahan adalah orang yang dekat dengan saya dari kecil. Dia sedikit lebih tua dari saya, pewahyuan Kristus Penyembuh baru saja dinaytakan dalam jiwa saya. Ibu saya menelepon saya suatu malam dan berkata, “John jika kamu ingin melihat ia hidup, kamu harus datang segera.”

Ketika saya tiba, ibu saya berkata, “sudah terlambat, ia sudah pergi.” Saya menghampiri tempat tidurnya dan meletakkan tangan saya di atas keningnya; dingin. saya mencari – cari detak jantungya, tetapi tidak ada. saya mengambil sebuah cermin kecil dan mengarahkannya ke mulutnya, tetapi tidak terjadi perubahan warna. ia tidak bernafas. Saya berdiri terpaku. Sauminya berlutut di kaki ranjang sambil meratap. Bajinya tertidur di seberan kamar di dalam tempat tidur bayi. Ayah saya yang sudah tua dan ibu saya tersedu – sedu di pinggir ranjang. mereka telah delapan kali melihat anak – anak mereka meninggal dunia; dan sekarang adalah yang kesembilan. Jiwa saya bergejolak. sambil menatap saudara perempuan saya ini, saya berkata, ” Oh Tuhan, ini bukan kehendak-Mu saya tidak dapat menerima ini! ini adalh pekerjaan iblis dan kegelapan.”

Saya menemukan fakta aneh bahwa ada waktu – waktu ketika roh seseorang terbaring menahan roh orang lain. Entah bagaimana, saya merasakan roh saya menahan roh saudara perempuan saya. Saya berdoa “Tuhan, ia tidak boleh pergi.” Saya berjalan mondar – mandir di ruangan itu selama beberapa saat. Roh saya menjerit untuk seseorang dengan iman kepada Allah yang dapat saya panggil untuk menolong saya.

Itu terjadi 25 tahun lalu ketika orang yang mempercayai kesembuhan dari Allah hampir disangka gila oleh gereja dan dunia. Terpujilah Tuhan, sekarang sudah berbeda. Itu adalah keuntungan tinggal bersama – sama dengan orang yang percaya kepada Allah dan berajaln dalam aturan-nya; bersatu membentuk sebuah inti rohani yang memiliki daya dalam masyarakat.

Saat berajaln mondar – mandir dalam kamar itu, pikiran saya hanya terfokus pada satu oran gyang memiliki iman dalam perkara ini. orang itu adalah John Alexander Dowie, yang berada 965 km jauhnya. Saya bergerak menuju meja telepon, menghubungi western Union, dan memberi tahu mereka bahwa say aingin mengirim telegram kepada Dr. Dowie dan menginginkan jawaban secepat mungkin. Saya mengirim kawat ini : “Saudara perempuan saya ternyata telah meninggal dunia, tetapi roh saya tidak mengijinkannya pergi. Saya percaya jika Anda berdoa, Allah akan menyembuhkannya.”

Segera sesudah itu, saya menerima jawaban ini; “Berpeganglah kepada Allah. Saya sedang berdoa, Ia akan hidup”

Seudah ribuan kali saya ditanyai, “Bagaimana jadinya jika balasan telegram itu bukanlah iman, melainkan sesuatu yang berasal dari seorang pengkhotbah yang elmbek yang mungkin berkata, “saya khawatir Anda salah kirim,” atau “Saudaraku, Anda mengkhayal, ” Atau ” Zaman mukjizat sudah lewat?”.

Kekuatan iman Dowie yang terkirim melalui telegram itulah yang menyebabkan kilat dalam jiwa saya mulai menyambar – nyambar, dan sambil berdiri memegang gagang telepon mendengarkan balasannya dibacakan dari seberang, kilat dari Allah mulai menyambar roh saya, Saya berdoa, “penyakit ini dari neraka; ini tidak boleh terjadi; ini tidak akna terjadi. Dalam nama Yesus Kristus, saya mengakhiri kematian dan penyakit ini, dan ia akan hidup.”

Selesai berdoa, saya menoleh ke tempat tidur, dan melihat kelpak mata sauara perempuan saya berkedip. Namun, karena saya sangat tegang, saya berkata, “mungkin aku sedang mengkhayal”. jadi saya berdiri sejenak disamping meja telepon, kilatan dari Allah masih menyambar – nyambar melalui jiwa saya. Saya melihat suaminya bangkit dan berjingkat ke arah tempat tidur, dan saya tahu ia juga melihatnya.

“Ada apa peter?” kata saya.

” Saya kira saya melihat kelopak matanya bergerak,” jawabnya. Tiba – tiba ia melakukanya lagi.

Lima hari kemudian saudara perempujan saya tersebut mengunjungi rumah ayah kami dan duduk bersama – sama kami menikmati hidangan makan malam Natal – kali pertama dalam kehidupan orangtua saya seluruh keluarga Lake sehat.

Kesembuhan Istri Lake yang lumpuh

Istri saya, yang perlahan -lahan tidak tertolong lagi selama bertahun – tahun, dan ditindas oleh sakit yang tak terkatakan, merupakan yang terakhir dari empat orang yang menerima kesembuhan dari Allah. Namun, sebelum kuasa Allah turun keatasnya. Saya menyadari satu hal yang tidak saya ketahui sebelumnya, yaitu pengabdian yang diinginkan Allah dan yang seharusnya diberikan orang Kristen kepada-Nya. Hari demi hari, kematian diam – diam menguasainya sampai waktunya tiba. Seorang hamba Tuhan datang. ia berdiri di samping ranjang istri saya, dan kembali menemui saya dengan berurai air mata, “Ayo jalan – jalan keluar,” katanya.

Kami menuju kegelapan malam dan ia berkata, “Saudara Lake, berdamailah dengan kehendak Allah.” Maksudnya sama dengan biasanya disampaikan oleh semua hamba Tuhan, “izinkanlah istri Anda pergi.” saya memikirkan bayi – bayi kami. Saya memikirkan wanita ini, yang saya cintai seperti diri saya sendiri, dan api menyala dalam hati saya. Saya merasa seolah – olah Allah terhina mendengar saran seperti itu. Namun, masih ada banyak hal yang harus saya pelajari.

Dengan jiwa yang bergejolak saya kembali ke rumah, mengambil Alkitab saya dari rak perapian dan melemparkannya kea tas meja. Jika Allah pernah membuat sebuah Alkitab seseorang terbuka pada halaman yang berisi pesan khusus bagi orang itu, itulah yang terjadi pada saat itu. Kisah para Rasul 10 tersingkap, dan mata saya jatuh pada ayat 38,, yang isisnya: “yaitu tentang Yesus dari Nazaret; bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.”

Bagai petir disiang bolong, kata – kata itu menusuk hati saya. ” yang dikuasai iblis”.
Jadi, bukan Allah yang mendatangkan sakit – penyakit, dan orang – orang yang disembuhkan oleh Yesus, sakit bukan karena Allah yang membuatnya! saya segera membuka perikop lain yang di sarankan dibawah Alkitab Saya. Saya kembali membaca kata – kata Yesus dalam Lukas 13:16, “Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu..?”

Sekali lagi, Yesus menghubungkan sakit – penyakit kepada iblis. Sungguh, iman saya melonjak, firman Allah dibukakan secara tiba – tiba kepada saya, dan pelayanan Yesus terjadi kembali dalam jiwa saya. Saya baru mengerti alasan Yesus menyembuhkan orang sakit, seolah – olah belum pernah mengerti. Dia sedang melakukan kehendak Bapa-Nya, dan dengan melakukan kehendak Bapa-Nya, Dia menghancurkan pekerjaan iblis (Ibr. 2:14b).

Dalam jiwa saya, saya berkata, “pekerjaan Iblis ini, kerusakan terhadap kehidupan istri saya ini, dalam nama Yesus Kristus akan berhenti karena Kristus telah mati dan Dia memikul kelemahan kami dan menanggung penyakit kami.” (Mat. 8:16 -17))..

Kami memtuskan untuk mendoakan kesembuhan -nya pada pukul 9:30 pagi, dan saya kembali menelopon dan mengirim telegram kepada teman – teman kami agar bergabung dalam doa pada waktu tersebut. pada pukul 9:30 saya berlutut di samping ranjang istri saya dan berseru kepada Allah yang hidup. Kuasa Allah turun ke atasnya, menggetarkannya dari kepala sampai kaki. ia di sembuhkan dari kelumpuhan, jantungnya berdengyut normal, batuknya berhenti, napasnya teratur, suhu tubuhnya normal. Kuasa Allah mengalir di dalam tubuhnya seperti darah mengalir dalam pembuluh darahnya.

Saat berdoa, saya mendengar suara dari bibrnya. Bukan suara lemah seperti biasanya, melainkan suara yang lebih kuat dan jelas. Ia berseru, “Puji Tuhan, Saya sudah sembuh.” bersamaan dengan itu, ia meraih selimut yang menutupi tubuhnya dan menyingkirkannya, dan dalam sekejap ia sudah berdiri di atas lantai – sepenuhnya sembuh!.

hari yang menakjubkan! Akankah saya melupakannya – masa ketika Allah menggetarkan jiwa kami dan sukacita Allah yang memenuhi hati kami setelah kesembuhan itu terjadi?

One thought on “Kesembuhan John G Lake dan keluarga

  1. donny ambar August 26, 2015 at 8:08 pm Reply

    Jika orang tua sakit maka hal yg saya buat selain berdoa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: