Kesembuhan yang tidak langsung terjadi

Sekali waktu di Afrika Selatan kami sedang mendoakan seorang Wanita yang sakit selama beberapa lama tanpa hasil. Kemudian saya berkata, “Saya akan membawa saudari saya dan doakanlah wanita ini.” kami berdoa lagi, dan kemenangan tak kunjung kami raih.

Satu dua hari kemudian, saudari saya dan saya berada dalam salah satu pusat perbelanjaan besar di kota, Saat kami berdiri di sana, Roh Tuhan berbicara kepada saya, “Temui wanita itu sekarang.” Saya berkata kepada saudari saya, ‘Begitu kamu selesai belanja, kita akan kembali menemui dan berdoa untuk wanita yang sakit itu.”

Kamipun berangkat, dan saya mengamati wanita itu menggeliat kesakitan dan begitu menderita, sampai saya pun merangkulnya dan mendekat kepalanya dekat ke jantung saya. Sesuatu segera terlepas dari dalam jiwa saya, dan kemudia dalam sekejap (saya bahkan belum sempat berdoa) ia diangkat dari siksaan dan penderitannya. Banjir ilahi menyapunya, dan saya tahu ia sudah sembuh. Saya membaringkan-nya ke atas tempat diru, meraih tangan saudari saya dan pergi keluar seraya memuji Allah.

Saya mengenal seorang pria Methodist yang taat di Afrika Selatan. Ia memiliki sepuluh putra, semuanya pengkhotbah Methodist dan tiga putri cantik, semuanya wanita yang kudus. keluarga ini merupakan salah satu keluarga yang paling mengangumkan yang pernah saya kenal. Ayahnya telah didera sebuah penyakit. Siksaan penderitaannya begitu hebat sampai – sampai kelegaan hanya bisa diperoleh dengan cara menghilangkan kesadarannya melalui morfin. Bertahun – tahun telah berlalu, ia menjadi pecandu morfin. Ia bercerita kepad asaya bahwa setiap hari ia bisa menghisap 24 rokok, mengenggak hampir dua liter wiski, dan mengkonsumsi morfin dalam takaran yang besar. Sebagaian besar waktu pria tua berusia 73 tahun ini dilewati dalam keaddan mati rasa karena mengkonsumsi obat – obatan.

Saya berdoa tak henti – hentinya bersamanya selama enam belas jam tanpa hasil. Mendengar kabar tersebut. William Duggin, salah satu hamba Tuhan di gereja saya, datang membantu saya. ia mengawasi Saudara tua itu dengan saksama dan mendoakannya dengna kuasa Allah, tetapi entah mengapa tidak ada jawaban. Saya memperhatikan laki-laki itu kejang-kejang sampai semua putrinya pun memohon untuk izinkan memberikan sedikit morfin agar ia mati rasa. daripada melihatnya menderita lebih lama lagi. Saya berkata, “Tidak. kalian sudah berjanji kepada syaa dan ia juga, bahwa hidup atau mati, kami akan berjuang sampai peperangan ini selesai.”

Saat berdiri sambil memerhatikan ngerinya kejang-kejang itu, firman Tuhan segera berbicara kepada saya. “Dialah yang memikul kelemahan kita” (Mat. 8:17). Saya merih tubuhnya dan berhasil memeluknya, saya mengunci tangan saya sekuat mungkin. BElas kasihan yang begitu besar yang tidak sepadan dengan ekspresi berbentuk apapun memancar keluar dari jiwa saya; dan dalam sekejap mata saya melihatnya berbaring tenang, di sembuhkan oleh kuasa Allah.

Setelah peristiwa itu kami kerap berkeliling melihat tiga perkebunannya yang luas, tempat di sana di tanam 50.000 pohon jeruk dan 50.000 pohon jeruk sitrun. Sambil berjalan pria tua itu menceritakan kepada saya tentang kasihnya kepada Allah dan kesempurnaan hadirat-Nya dan saya mendapat upah saya.

— Dikutip dari buku berjudul “how to be filled with Spiritual power” oleh Harold J. Chadwick, hal : 85 – 87, penerbit : Andi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: