7 Hari Raya Bangsa Israel

7 HARI RAYA ISRAEL – PETA PERJALANAN ROHANI KITA

Seperti yang kita ketahui, bahwa bangsa Israel berada di dalam perbudakan Mesir selama 430 tahun (Kel 12:40). Mereka merindukan seorang pembebas yang dapat membebaskan mereka dari perbudakan ini. Dan Musa-lah yang diutus Tuhan sebagai pemimpin pembebasan ini. Musa, seorang yang dibesarkan di Mesir, dengan intelektual gaya Mesir, diutus oleh Tuhan sendiri dengan menyatakan diriNya di Gunung Horeb (Kel 3:1-22) untuk menggembalakan orang-orang Israel keluar dari tanah Mesir.

Perjalanan bangsa Israel dari tanah Mesir menuju ke tanah perjanjian adalah suatu fakta unik, di mana kita sebagai orang percaya wajib untuk dengan seksama memperhatikan dan mempelajarinya. Mesir adalah lambang dari sistem dunia, di mana kita harus meninggalkannya untuk mencapai Tanah Perjanjian yang dijanjikan Tuhan kepada kita orang percaya yaitu Surga, melalui Yesus Kristus. Di perjalanan bangsa Israel ini pulalah, mereka untuk pertama kalinya merayakan hari-hari raya yang sudah ditetapkan Tuhan (Imamat 23:1-44). Hari-hari raya ini melambangkan proses kehidupan kita orang percaya, mulai dari saat kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat sampai kita masuk ke Tanah Perjanjian abadi yaitu Surga. Marilah kita mempelajari hari-hari raya ini satu per satu sebagai arahan bagi kehidupan kita orang percaya.

Hari Raya Paskah (H – pesach)
Hari raya Paskah jatuh pada tanggal 14 Nisan dalam kalender Yahudi. Secara historis, hari raya ini menandakan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir (Kel 12:14). Pertama kali hari raya ini diadakan di Mesir. Mesir dikenal sebagai “rumah perbudakan” karena bangsa Israel diperbudak dan ditawan dalam suatu situasi yang pahit oleh bangsa Mesir. Ketika Allah menjatuhkan hukuman atas Mesir, semua orang yang membubuhhkan darah anak domba di depan pintu rumah mereka diluputkan dari hukuman. Sebab itu, bangsa Israel diselamatkan dari hukuman oleh darah Anak Domba, dan dengan demikian mereka memulai perjalanan mereka menuju tanah perjanjian (Kel 12).

Keselamatan bangsa Israel adalah anak domba Paskah. Paskah berbicara tentang keselamatan yang adalah kasih karunia Allah bagi kita, sesuatu yang tidak layak kita terima. Keselamatan adalah inisiatif Allah, dan hanya bisa terjadi dengan kasih karunia Allah oleh iman, dan bukan hasil usaha kita (Ef 2:8). Darah Anak Domba-lah yang menyelamatkan kita dari hukuman. Paulus berkata, “Anak Domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus” (I Kor 5:7). Ia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh 1:29). Hari raya Paskah merupakan tahapan pertama dari kehidupan kekristenan kita, yaitu menerima keselamatan.

Hari Raya Roti Tidak Beragi (H – matsot)
Hari raya Roti Tidak Beragi jatuh pada tanggal 15 Nisan dan dirayakan selama 7 hari berturut-turut. Secara historis bangsa Israel harus makan roti tidak beragi selama hari raya Paskah, dan lalu mereka mereka makan roti tidak beragi selama 7 hari lagi.

Roti melambangkan Firman Allah. Hal ini berarti setelah keselamatan (yang dilambangkan dengan hari raya Paskah), kita harus makan Firman Allah yang murni tak henti-hentinya sementara kita bergegas keluar dari Mesir menuju ke Tanah Perjanjian. Roti juga merupakan simbol kekuatan. Kekuatan rohani dapat kita miliki dengan mengkonsumsi Firman Allah dan memberi makan manusia batiniah kita.

Ragi melambangkan dosa, kemunafikan, ajaran palsu (Luk 12:1, Mat 16:6,12). Rasul Paulus menasihati kita untuk menyingkirkan ragi dari kehidupan kita dan agar kita memelihara hari raya Roti Tidak Beragi, yang adalah roti kemurnian dan kebenaran (I Kor 5:8).

Hari Raya Bungaran/Buah Sulung (H – bikkurim)
Hari raya Buah Sulung jatuh pada tanggal 17 Nisan. Secara historis, hari ini bangsa Israel mempersembahkan jelai pertama sebagai korban ketika mereka memasuki tanah Kanaan (Im 23:9-14). Hari ini berbicara kepada kita tentang kebangkitan Yesus dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (I Kor 15:20). Kristus menggenapi hari raya ini lewat kematianNya, penguburanNya, kebangkitanNya, dan penampakanNya di hadapan Bapa. Kita dipersamakan dengan kematianNya, penguburanNya, dan kebangkitanNya dalam baptisan air. Karena itu, menyeberangi Laut Merah juga dikaitkan dengan hari raya Buah Sulung.

Menurut Imamat 23:9-11, pada masa panen, imam mengambil seberkas hasil pertama (buah sulung) dari hasil tuaian dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Ia menunjukkan seberkas tuaian itu di hadapan Tuhan. Hal ini secara sengaja dilakukan pada hari Minggu, “pada hari sesudah Sabat”. Bila Tuhan menerima buah sulung ini, Ia menerima juga seluruh hasil panen. Yesus Kristus menggenapi hal ini, karena Ia adalah buah sulung dari orang-orang mati yang dibangkitkan. Ketika Ia bangkit dari kematian, Ia berkata kepada Maria, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa” (Yoh 20:17). Yesus terlebih dulu harus menampakkan diri di hadapan Bapa sebagai “yang sulung dari orang-orang mati yang dibangkitkan”. Ketika Bapa menerima Dia, Ia juga menerima kita semua. “Sebab Aku hidup, dan kamu pun akan hidup” (Yoh 14:19b). Laut Merah (baptisan air) adalah gambaran dari “mati, dikuburkan, dan dibangkitkan bersama Kristus,” dan merupakan sebuah penggenapan dari hari raya Buah Sulung dalam kehidupan kita.

Hari Raya Pentakosta (H- shavuot)
Hari raya Pentakosta jatuh pada tanggal 6 Siwan, atau 50 hari setelah hari raya Buah Sulung. Secara historis, bangsa Israel sampai ke Gunung Sinai “pada bulan ketiga” yaitu pada bulan perayaan Pentakosta (Kel 19:1-2). Gunung Sinai melambangkan Baptisan Roh Kudus. Di Gunung Sinai, mereka semua mengalami tanda-tanda ajaib yang menyertai Baptisan Roh Kudus. Mereka melihat api Allah, mendengar suara Allah, mengalami kecukupan, berbagai mukjizat, kesembuhan, dan mereka sadar akan hadirat Allah. Kita ingat bahwa setelah Yesus dibaptis dalam air, Ia dipimpin oleh Roh Kudus ke dalam padang gurun untuk diuji.

Di hari ini, orang Israel juga mempersembahkan “dua buah roti unjukan … yang dibakar sesudah dicampur dengan ragi” (Im 23:17). Ragi adalah sebuah gambaran dosa. Roh Kudus tidak diberikan kepada orang-orang karena mereka sudah kudus, justru Roh Kudus diberikan untuk membuat mereka kudus. Seringkali orang berpikir bahwa sekali kita menerima baptisan Roh Kudus, kita hidup di Tanah Perjanjian, tetapi ingatlah, bahwa Sinai terletak di padang gurun. Pengalaman Pentakosta hanyalah sebuah batu loncatan untuk masuk ke dalam janji-janji Allah yang selanjutnya bagi kita. Karena itu, Allah mengizinkan ujian-ujian tertentu yang akan berurusan dengan ragi di dalam hidup kita. Bangsa Israel menghadapi 9 ujian yang datang silih berganti sampai sebelum mereka tiba di Kadesh-Barnea, dan di Kadesh-Barnea, mereka gagal dalam ujian yang ke-10 (Bil 14:22-23). Allah telah memberi mereka kesempatan untuk dapat dimurnikan dari ragi dalam kehidupan mereka untuk mempersiapkan mereka agar dapat masuk ke dalam Tanah Perjanjian. Marilah kita tidak terus tertahan di Gunung Sinai, tapi terus berjalan maju menuju Gunung Sion tempat kediaman Allah (Kel 15:17).

Hari Raya Peniupan Serunai/Sangkakala (H – rosh hashanah)
Hari raya Peniupan Serunai jatuh pada tanggal 1 Tishri. Secara historis, hari ini adalah hari perhentian penuh, di mana bangsa Israel berhenti dalam pekerjaan berat dan mempersembahkan korban kepada Tuhan (Im 23:24, Bil 29:1). Hari juga adalah waktu untuk introspeksi diri untuk menyambut hari raya Pendamaian. Secara geografis, hari raya ini terjadi di ujung padang gurun yaitu di Gunung Pisga, di mana Musa menyampaikan perkataan terakhirnya sebelum ia meninggal dunia. Perkataan terakhir ini dibukukan menjadi Kitab Ulangan, yang adalah tinjauan ualng dari tahun-tahun yang telah mereka lewati sejak mereka keluar dari Mesir, dan juga sebuah tinjauan kepada masa depan untuk menyeberangi Sungai Yordan untuk masuk ke Tanah Perjanjian. Ini adalah suatu panggilan baru untuk bergerak maju.

Secara umum serunai ditiup di Israel untuk 3 alasan: i. Ketika Allah ingin mengatakan sesuatu yang baru, ii. Ketika seluruh umat harus kembali berjalan dan bergerak maju, iii. Ketika ada ancaman perang (Bil 10:1-10). Allah ingin gerejaNya bergerak maju dan tidak puas dengan hal-hal dasar seperti yang disebutkan dalam Ibrani 6:1-3, yaitu supaya kita “beralih kepada perkembangannya yang penuh.” Bangsa Israel dipanggil untuk menyeberangi Sungai Yordan dan untuk mengusir ke 31 raja, agar dapat mendiami Gunung Sion. Suara serunai Allah telah dibunyikan untuk menandakan panggilan untuk bergerak maju kepada hari raya yang ke enam.

Hari Raya Pendamaian (H – yom kippur)
Hari raya Pendamaian jatuh pada tanggal 10 Tishri. Secara historis, bangsa Israel yang sekarang dipimpin oleh Yosua, menyeberangi Sungai Yordan (Yosua 3) dan kemudian mereka disunat di Gilgal (Yosua 5).

Hari raya Pendamaian melambangkan pemurnian. Penyeberangan Sungai Yordan dan penyunatan menandakan akhir dari masa di padang gurun dan awal masuknya mereka ke Tanah Perjanjian. Penyeberangan Yordan mengingatkan kita akan pengalaman “mati terhadap dosa” dan penyunatan menggambarkan “pengeratan hati” seperti yang dituliskan dalam Roma 6:6. John Wesley menyebut hal ini sebagai “karya kedua dari kasih karunia” yaitu “pengudusan”. Ketika kita melewati ujian-ujian di padang gurun, Allah akan membawa kita kepada pengalaman Yordan pribadi kita.

Setelah pengalaman Yordan dan penyunatan, umat Allah tidak pernah sama lagi (Yos 5:9). Sejak itu, mereka tidak lagi ingin kembali ke Mesir. Setelah itu, mereka mampu melakukan peperangan dengan tiga puluh satu raja-raja (Yos 12:10-24) yang melambangkan tuan-tuan memerintah dalam kehidupan yang berpusat pada dir sendiri. Pembantaian raja-raja ini menandakan suatu pemeriksaan dan pembedahan batin kita yang lebih mendalam untuk menyingkapkan hal-hal yang tidak berkenan kepada Allah. Pada akhirnya, kita akan sampai kepada Gunung Sion, kubu pertahanan terakhir, tempat yang telah Allah pilih untuk menempatkan hadiratNya (Mzm 87:2; 132:13-16).

Hari Raya Pondok Daun (H – sukkot)
Hari raya Pondok Daun jatuh pada tanggal 15 – 21 Tishri selama 7 hari, dengan hari ke-8 sebagai puncaknya. Hari ini juga disebut hari raya Pengumpulan Hasil (Kel 23:16) sebagai peringatan waktu pengembaraan bangsa Israel di padang gurun selama 40 tahun dengan tinggal di pondok-pondok (Im 23:43). Pada hari ini orang Israel wajib datang ke Yerusalem untuk membawa perpuluhan dan persembahan mereka (Kel 23:17).

Setelah Yosua berhasil membawa bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan dan masuk ke tanah pusaka mereka, generasi baru itu disunat dan pergi berperang melawan raja-raja Kanaan, tetapi Yosua tidak mampu membawa mereka masuk ke dalam perhentian yang sepenuhnya (Ibr 4:8) karena mereka tidak mengusir semua musuh mereka (Yos 13:1; 18:3). Setelah Yosua meninggal, bangsa Israel terus berkompromi dan tinggal bersama musuh-musuh mereka. Yang paling buruk adalah, Gunung Sion, tempat tujuan ke mana mereka dipanggil (Kel 15:17) masih dikuasai oleh bangsa Yebus. Barulah pada zaman Daud, seseorang yang berkenan di hati Tuhan, ia menaklukkan kubu pertahanan di Sion, kubu terakhir, dan menempatkan tabut perjanjian di sana (II Sam 5:7; I Taw 15:25-28; 16:1). Dengan itu Daud membawa bangsanya kepada tujuan akhir utama dari perjalanan mereka dan kepada perhentian mereka. Pada akhirnya, 443 tahun setelah bangsa Israel memulai perjalanan mereka keluar dari Mesir, mereka mencapai Gunung Sion. Gunung Sion menggambarkan hari raya Pondok Daun yang merupakan hari raya terbesar dan terakhir dalam hari-hari raya di Israel. Hari raya itu adalah hari raya Kemuliaan, Sukacita, Kesatuan, Perhentian, Pemulihan, Tuaian, Hujan Akhir, dan Penampakan Kristus.

— Di tulis oleh : Willy Pandi —-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: